Rabu, 26 Oktober 2022

Drama

Nama : Aurel Gracia

Nim : 22016014

Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah

Dosen pengampu : Dr.abdurahman,M.pd.

Sesi(08.50-12.20)



A. Drama
       Drama adalah sebuah jenis karya sastra yang menceritakan sebuah kisah, watak, tingkah laku manusia lewat peran serta dialog yang ditunjukkan di atas panggung.
sah dan cerita dalam drama terkandung konflik serta emosi yang bertujuan guna mempengaruhi orang yang melihat atau mendengar drama itu. Naskah drama diperankan oleh aktor yang mempunyai kemampuan guna menyajikan konflik serta emosi secara utuh.
Istilah drama datang dari khazanah kebudayaan Barat. Istilah drama berasal dari kebudayaan atau tradisi bersastra di Yunani. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan Krauss (1999: 249) dalam bukunya Verstehen und Gestalten, “drama adalah suatu bentuk gambaran seni yang datang dari nyanyian dan tarian ibadat Yunani kuno, yang di dalamnya dengan jelas terorganisasi dialog dramatis, sebuah konflik dan penyelesaiannya digambarkan di atas panggung".

       Kata drama berasal dari bahasa Yunani, tegasnya dari kata kerja dran yang berarti “berbuat, to act atau to do”. Demikianlah dari segi etimologinya, drama mengutamakan perbuatan, gerak, yang merupakan inti hakikat setiap karangan yang bersifat drama.

       Menurut Moulton, “drama adalah hidup yang ditampilkan dalam gerak” (life presented in action) dan Bathazar Verhagen mengemukakan bahwa “drama adalah kesenian melukis sifat dan sikap manusia dengan gerak” (Slametmuljana dalam Tarigan, 1985: 70). Jadi, drama adalah sebuah cerita yang membawakan tema tertentu dengan dialog dan gerak sebagai pengungkapannya.

       Drama adalah sebuah genre sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya dialogue atau cakapan diantara tokoh-tokoh yang ada (Budianta dkk., 2002: 95). Dalam pertunjukkan drama, yang paling penting adalah dialog atau percakapan yang terjadi di atas panggung karena dialog tersebut menentukan isi dari cerita drama yang dipertunjukkan.

       Drama termasuk salah satu genre sastra imajinatif, yang mengungkapkan cerita melalui dialog-dialog para tokohnya. Tujuan utama drama adalah untuk dipertunjukkan di atas panggung, namun drama juga bisa dibaca seperti layaknya puisi, prosa, atau novel.

       Dalam proses membaca sebuah drama pikiran dan perasaan akan membayangkan bagaimana dialog-dialog yang dibaca diungkapkan dalam sebuah pertunjukkan. Oleh karena itu, drama termasuk jenis karya sastra imajinatif.

Ciri-ciri Drama
Semua kisah dalam cerita drama digambarkan dalam bentuk dialog, baik dialog antar tokoh ataupun dialog tokoh dengan dirinya sendiri (monolog).
Drama wajib mempunyai tokoh atau karakter yang diperankan oleh manusia, wayang, serta boneka.
Dalam drama wajib ada konflik atau ketegangan yang menjadi inti dari cerita drama.
Durasi waktu pementasan drama bisa berlangsung selama sekitar 3 jam.
Pementasan drama umumnya dilakukan di atas panggung yang sudah dilengkapi beberapa perlengkapan serta peralatan guna menghidupkan suasana.
Pertunjukan drama selalu dilakukan dihadapan penonton dimana drama itu dibuat sebagai sarana hiburan.

Struktur Drama
1. Babak atau Episode
Bagian dari naskah drama yang menyusun peristiwa yang terjadi di sebuah tempat dengan urutan waktu tertentu.
2. Adegan
Bagian dari drama yang menggambarkan terjadinya perubahan peristiwa yang ditandai dengan terjadinya pergantian setting waktu, tempat, serta tokoh.
3. Dialog
Percakapan yang dilakukan oleh 2 atau beberapa tokoh dalam drama. Dialog adalah hal utama yang membedakan drama dengan karya sastra lainnya.
4. Prolog
Kata pengantar saat akan masuk dalam suatu drama yang memberikan gambaran umum mengenai drama yang dipentaskan.
5. Epilog
Bagian akhir dari sebuah drama yang mana isinya menjelaskan kesimpulan, makna, serta pesan dari drama yang dipentaskan.

Unsur-unsur Drama

1. Tokoh dan Penokohan
Tokoh memiliki posisi yang sangat penting karena bertugas mengaktualisasikan cerita atau naskah drama di atas pentas. Dalam cerita drama tokoh merupakan unsur yang paling aktif yang menjadi penggerak cerita. Oleh karena itu, seorang tokoh haruslah memiliki karakter, agar dapat berfungsi sebagai penggerak cerita yang baik.

Di dalam naskah akan ditentukan dimensi-dimensi sang tokoh. Biasanya ada tiga dimensi yang ditentukan, yaitu:

Dimensi fisiologi (ciri-ciri badani) antara lain usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, ciri-ciri muka, dll. 
Dimensi sosiologi (latar belakang) kemasyarakatan misalnya status sosial, pendidikan, pekerjaan, peranan dalam masyarakat, kehidupan pribadi, pandangan hidup, agama, hobby, dan sebagainya.
Dimensi psikologis (latar belakang kejiwaan) misalnya temperamen, mentalitas, sifat, sikap dan kelakuan, tingkat kecerdasan, keahlian dalam bidang tertentu, kecakapan, dan lain sebagainya. 
Peleraian - Pada tahap ini mulai muncul peristiwa yang dapat memecahkan persoalan yang dihadapi.
Penyelesaian atau denouement - Drama terdiri dari sekian adegan yang di dalamnya terdapat krisis-krisis yang memunculkan beberapa klimaks. Satu klimaks terbesar di bagian akhir selanjutnya diikuti adegan penyelesaian.
Apabila salah satu saja dari ketiga dimensi di atas diabaikan, maka tokoh yang akan diperankan akan menjadi tokoh yang kaku, timpang, bahkan cenderung menjadi tokoh yang mati.

Berdasarkan perannya, tokoh terbagai atas tokoh utama dan tokoh pembantu. Tokoh utama adalah tokoh yang menjadi sentral cerita dalam pementasan drama sedangkan tokoh pembantu adalah tokoh yang dilibatkan atau dimunculkan untuk mendukung jalan cerita dan memiliki kaitan dengan tokoh utama.

Dari perkembangan sifat atau perwatakannya, tokoh dan perannya dalam pementasan drama terdiri empat jenis, yaitu tokoh berkembang, tokoh pembantu, tokoh statis dan tokoh serba bisa.

2. Alur (Plot)
Alur adalah jalinan cerita. Secara garis besar, plot drama dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:

Pemaparan atau eksposisi - Bagian pertama dari suatu pementasan drama adalah pemaparan atau eksposisi. Pada bagian ini diceritakan mengenai tempat, waktu dan segala situasi dari para pelakunya. Kepada penonton disajikan sketsa cerita sehingga penonton dapat meraba dari mana cerita ini dimulai. Jadi eksposisi berfungsi sebagai pengantar cerita. Pada umumnya bagian ini disajikan dalam bentuk sinopsis.
Komplikasi awal atau konflik awal - Jika pada bagian awal tadi situasi cerita masih dalam keadaan seimbang maka pada bagian ini mulai timbul suatu perselisihan atau komplikasi. Konflik merupakan kekuatan penggerak drama.
Klimaks dan krisis - Klimaks dibangun melewati krisis demi krisis. Krisis adalah puncak plot dalam adegan. Konflik adalah satu komplikasi yang bergerak dalam suatu klimaks.

3. Dialog
Dialog berisikan kata-kata. Dalam drama para tokoh harus berbicara dan apa yang diutarakan mesti sesuai dengan perannya, dengan tingkat kecerdasannya, pendidikannya, dsb. Dialog berfungsi untuk mengemukakan persoalan, menjelaskan perihal tokoh, menggerakkan plot maju, dan membukakan fakta.

Jalan cerita drama diwujudkan melalui dialog (dan gerak) yang dilakukan pemain. Dialog-dialog yang dilakukan harus mendukung karakter tokoh yang diperankan dan dapat menunjukkan alur lakon drama. Dalam percakapan atau dialog haruslah memenuhi dua tuntutan;

Dialog harus menunjang gerak laku tokohnya. Dialog haruslah dipergunakan untuk mencerminkan apa yang telah terjadi sebelum cerita itu, apa yang sedang terjadi di luar panggung selama cerita itu berlangsung; dan harus pula dapat mengungkapkan pikiran-pikiran serta perasaan-perasaan para tokoh yang turut berperan di atas pentas. 
Dialog yang diucapkan di atas pentas lebih tajam dan tertib daripada ujaran sehari-hari. Tidak ada kata yang harus terbuang begitu saja; para tokoh harus berbicara jelas dan tepat sasaran. Dialog itu disampaikan secara wajar dan alamiah.

4. Latar
latar atau setting adalah penempatan ruang dan waktu, serta suasana cerita. Penataan latar akan menghidupkan suasana. Penataan latar akan menghidupkan suasana, menguatkan karakter tokoh, serta menjadikan pementasan drama semakin menarik. Oleh karena itu, ketetapan pemilihan latar akan ikut menentukan kualitas pementasan drama secara keseluruhan.

5. Tema
Tema drama adalah gagasan atau ide pokok yang melandasi suatu lakon drama. Tema drama merujuk pada sesuatu yang menjadi pokok persoalan yang ingin diungkapkan oleh penulis naskah. Tema itu bersifat umum dan terkait dengan aspek-aspek kehidupan di sekitar kita.

Tema utama adalah tema secara keseluruhan yang menjadi landasan dari lakon drama, sedangkan tema tambahan merupakan tema-tema lain yang terdapat dalam drama yang mendukung tema utama.

6. Pesan atau Amanat
Setiap karya sastra selalu disisipi pesan atau amanat oleh penulisnya. Dengan demikian pula dengan drama. Hanya saja, amanat dalam karya sastra tidak ditulis secara eksplisit, tetapi secara implisit. Penonton menafsirkan pesan moral yang terkandung dalam naskah yang dibaca atau drama yang ditontonnya.

7. Interpretasi Kehidupan
Maksudnya adalah pementasan drama itu seolah-olah terjadi dengan sesungguhnya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari meskipun hanya merupakan tiruan kehidupan. Drama adalah bagian dari suatu kehidupan yang digambarkan dalam bentuk pentas.

B.Jenis-jenis Drama

1. Berdasarkan Penyajian Lakon
Tragedi
Drama yang menggambarkan kesedihan dari tokoh utama dalam drama. Umumnya drama berakhir dengan kisah yang menyedihkan.
Opera
Drama yang dialognya dibuat dengan cara bernyayi serta diiringi musik.
Komedi
Drama yang mempertunjukkan kelucuan para tokoh serta alur cerita lucu.
Tragekomedi
Drama yang menggabungkan antara tragedi serta komedi pada waktu yang sama.
Melodrama
Drama yang dialog serta lakonnya dibuat sambil diiringi oleh musik atau melodi.
Tablo
Drama yang dibuat yang mana para tokoh tak melakukan dialog, namun mengutamakan kemampuan melakukan gerakan tanpa suara contohnya pantonim.
Farce
Drama yang mempertunjukkan bermacam hal lucu lewat tingkah para pelakon. Mirip seperti dagelan namun tidak sepenuhnya sama dengan dagelan.

2. Berdasarkan Sarana
Drama Panggung
Drama yang digambarkan sepenuhnya di atas panggung yang mana para pemain tidak bisa melakukan pengulangan adegan.
Drama Televisi
Drama yang ditampilkan di Televisi yang mana para pemain bisa melakukan pengulangan adegan sebab tidak ditampilkan secara langsung.

Drama Radio
Drama yang hanya bisa didengarkan tanpa dilihat.
Drama Film
Drama yang ditampilkan di layar lebar contohnya bioskop. Drama ini bisa juga dilihat di Televis, tapi sesudah diputar di bioskop terlebih dahulu.
Drama Wayang
Drama yang diperankan oleh wayang pada semua adegannya.
Drama Boneka
Drama yang memakai boneka sebagai tokoh di setiap adegannya.

3. Berdasarkan Keberadaan Naskah
Drama Tradisional
Drama yang dipertunjukkan yang mana para pemeran tidak memakai naskah ketika ada di panggung. Dalam hal tersebut, pemeran membaca gambaran cerita secara umum lalu berimprovisasi sesuai terhadap peran masing-masing.
Drama Modern
Drama yang digambarkan dimana para pemeran memakai naskah ketika ada di panggung. Tapi, para pemeran bisa berimprovisasi pada kejadian-kejadian tertentu.


DAFTAR PUSTAKA

Alex.(2022)."Drama adalah : Pengertian, Struktur, Unsur, Ciri, Jenis, Contoh-Pengajar.co.id" (online) https://pengajar.co.id/drama-adalah/,diunduh pada 27 Oktober 2022.

Rahma, imelda.(2021)."Drama adalah Genre Karya Sastra, Pahami Unsur dan Jenisnya" (online), https://m.fimela.com/lifestyle/read/4493352/drama-adalah-genre-karya-sastra-pahami-unsur-dan-jenisnya diunduh pada 27 Oktober 2022.

Rabu, 12 Oktober 2022

Fiksi

Nama : Aurel Gracia

Nim : 22016014

Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah

Dosen pengampu : Dr.abdurahman,M.pd.

Sesi(08.50-12.20)


A. Pengertian Cerita Fiksi

       Cerita fiksi adalah cerita yang hanya memutar kejadian fantasi semata.Karena cerita fiksi merupakan fantasi, maka tidak heran jika disebut sebagai angan-angan. Hadirnya cerita fiksi tidak lain hanya untuk dijadikan hiburan semata. Bahkan bisa dibilang cerita ini hanya karya dari pengarangnya. 

       Fiksi adalah sebuah narasi yang sebagian atau seluruhnya berkaitan dengan peristiwa yang tidak faktual melainkan imajiner dan diciptakan oleh seseorang berdasarkan imajinasinya. Baik itu berbentuk tontonan, pendengaran ataupun tulisan. Secara kasar bahasa, fiksi bermakna sebuah tipuan.

        Karya fiksi mengambil langkah dalam bentuk cerita, untuk menyampaikan poin, perspektif pengarang, atau hanya sekedar untuk menghibur. Pada dasarnya karya jenis ini tidak butuh pada fakta, logika atau kisah nyata. Apa dan bagaimana isinya, semua tergantung pada sang pengarangnya. Fiksi merupakan sesuatu yang timbul dari dunia khayalan. Malah sebaliknya, ketika fiksi telah berdasarkan fakta secara keseluruhan, maka tak lagi berbentuk fiksi, melainkan sebuah sejarah.

       Memang ada beberapa karya fiksi yang berdasarkan pada kisah nyata, namun ketika ia telah dirangkai dan dibumbuhi imajinasi, ketika itu pula jenisnya berganti menjadi fiksi. Ia tak lagi disebut sebagai sejarah atau sebuah fakta. Ibarat pepatah, karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Sejarah akan tetap berbentuk sejarah, manakala nama, tempat dan tanggal tak berubah sedikitpun.

Pengertian Fiksi Menurut Para Ahli :

· Nurgiyantoro (2007: 2-3), fiksi dapat diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia.

· Fiksi adalah karangan yang di dalamnya terdapat unsur khayal atau imajinasi pengarang (Aceng Hasani, 2005: 21).

· Di lain pihak, Sudjiman (1984:17) yang menyebut fiksi ini dengan istilah cerita rekaan juga memaparkan mengenai pengertian fiksi, yaitu kisahan yang mempunyai tokoh, lakuan, dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi, dalam ragam prosa. Dalam hal ini, Sudjiman menjelaskan bahwa karangan fiksi merupakan hasil imajinasi seorang pengarang yang didalamnya mengandung unsur-unsur seperti tokoh, alur, dan lainnya. Unsur-unsur tersebut saling berkesinambungan agar terjadinya sebuah cerita.

B. Unsur Intrinsik Cerita Fiksi

       Dalam cerita fiksi pada dasarnya tidak hanya menyajikan bentuk cerita saja. Melainkan dalam komponen cerita juga terdapat berbagai. Unsur yang membangun adanya cerita fiksi. So, di bawah ini adalah serangkaian unsur yang paling umum di dalam cerita fiksi.

1. Tema

Siapa sih yang tidak kenal dengan tema? Tema merupakan gagasan atau ide utama dari sebuah cerita. Entah mau seberapa panjang cerita tersebut, pasti memiliki tema. Nah! Biasanya, cerita yang panjang justru memiliki lebih dari sebuah tema.

2. Alur

Selain tema, dalam sebuah cerita ada juga yang disebut alur. Alur menggambarkan keseluruhan dari sebuah cerita. Bahkan setiap cerita memiliki alur yang berbeda. Entah itu mau akur maju, mundur atau campuran.

3. Tokoh

Dalam sebuah cerita sudah dipastikan ada tokohnya. Tokoh juga biasa disebut karakter. Nah! Dalam suatu cerita, tokoh tidak hanya manusia saja. Jika ceritanya menceritakan kisah binatang, maka tokohnya bisa berupa binatang.

4. Latar

Penikmat sebuah cerita pasti tahu kalau di sebuah cerita tidak hanya terdiri dari 3 unsur di atas saja. Melainkan ada juga latar. Latar mengisahkan suasana, waktu, dan tempat yang berbeda dalam sebuah cerita.

5. Konflik

Dalam sebuah cerita sudah pasti terdapat adanya konflik. Konflik dalam cerita bertujuan untuk membangkitkan emosi para pembacanya. Namun bukan hanya itu Sajam konflik sebuah masalah juga bertahap. Mulai dari yang paling awal sampai tahap penyelesaian konflik.

6. Sudut Pandang

Kalau sudut pandang adalah terkait Point of View si penulisnya. Sudut pandang dalam sebuah cerita berbeda dengan cerita yang lainnya. Bisa dikatakan, sebuah cerita memakai sudut pandang orang pertama jika mengisahkan tentang ‘saya’.

Jika cerita mengisahkan sudut pandang orang kedua, maka mengisahkan tentang ‘dia’. Namun, ada pula sudut pandang orang ketiga, mengisahkan kehidupan seseorang, di mana penulis seolah hanya berperan sebagai pengamat saja.

7. Percakapan

Perlu kamu ketahui, dalam sebuah cerita pastinya terdapat dialog. Nah! Dialog dalam cerita fiksi berbeda dengan dialog yang terjadi di dunia nyata. Bisa dibilang dialog cerita fiksi cenderung menampilkan poin-poin pentingnya saja.

Unsur Intrinsik Cerita Fiksi

Dalam sebuah cerita terdapat unsur. Unsurnya ada unsur instrinsik yang berfungsi untuk membangun sebuah cerita dalam suatu cerita fiksi. Dimana padu padan dalam sebuah cerita terjadi karena adanya unsur intrinsik. Unsur intrinsik terbagi menjadi beberapa bagian.

Pertama, ada tema. Tema sama halnya gagasan utama dalam sebuah cerita. Kedua, ada tokoh. Tokoh adalah peran yang ada di dalam sebuah cerita. Terkait tokoh bisa terdiri atas beberapa sifat sesuai dengan peran dari tokohnya.

Selain itu, ada latar. Mengenai latar sebenarnya bisa mencakup latar waktu, tempat, atau suasana. Ada pula unsur yang disebut sebagai alur. Alur adalah jalan cerita. Dalam setiap cerita terdapat alur yang berbeda-beda. Ada yang pakai alur maju, mundur, atau campuran.

Selain itu, ada pula sudut pandang. Sesuai dengan namanya, sudut pandang merupakan pandangan penulis. Ada pula yang disebut sebagai amanat, adalah pesan yang terkandung di dalam sebuah cerita.

Untuk lebih memahami berbagai unsur yang ada pada sebuah cerita dan dapat langsung mengaplikasikannya, Grameds dapat membaca buku Yuk, Menulis! Diary, Puisi, Dan Cerita Fiksi.

C. Unsur Ekstrinsik Cerita Fiksi

       Selain unsur intrinsik yang membangun sebuah cerita, ada pula unsur Ekstrinsik. Unsur Ekstrinsik adalah salah satu unsur yang mempengaruhi si penulis cerita tersebut. Ada beberapa hal yang akan dikaji dari unsur Ekstrinsik ini. Diantaranya adalah sebagai berikut!

       Hubungan penulis dengan dunia sastra. Biasanya mencakup latar belakang kehidupan sang pengarang yang mempengaruhi kondisi kejiwaan, latar belakang penulis di kehidupan masyarakat, serta hubungannya dengan negara atau politik.

       Hubungan ide penulis dengan sastra yang berupa ideologi, filsafat, pengetahuan, dan teknologi.

      Hubungan segala aspek yang akan memengaruhi cerita. Baik itu aspek pendidikan, aspek ekonomi, aspek budaya, politik, dan lainnya.

       Hubungan sastra dengan semangat zaman serta bagaimana sang pengarang menceritakannya.

D. Jenis Cerita Fiksi

1. Novel

Novel merupakan salah satu bagian dari sebuah cerita fiksi. Mengenai novel sebenarnya sebuah cerita dengan pemaparan kisah yang panjang. Di dalam novel juga terjadi interaksi antara tokoh satu dengan tokoh lainnya. Bahkan novel menampilkan konflik yang tinggi.

Selain itu, novel juga biasanya menceritakan alur kehidupan tokoh dari lahir hingga dewasa. Konfliknya tidak hanya dipaparkan secara singkat dan jelas, bahkan bisa berkepanjangan. Terkait hal ini pula novel biasanya memiliki konflik pro dan kontra.

Contoh-contoh novel : 

a. Novel Nebula – Tere Liye

b. More Of You – Acha Sinaga & Andy Ambarita

2. Cerpen

Selain novel, cerita fiksi juga ada cerpen atau cerita pendek. Terkait dengan hal ini, cerpen jelasnya lebih singkat daripada novel. Cerpen hanya menampilkan kisah yang fokus pada tujuan. Tidak layaknya novel yang berkepanjangan, karakter cerpen juga dibatasi.

Selain itu, tidak ada konflik yang terlalu rumit. Pada dasarnya cerpen hanya menampilkan bagian fokus ke akar permasalahannya saja. Dari pada itu, cerpen biasa disebut sebagai cerita sekali duduk.

3 Roman

Pernahkah mendengar istilah roman sebelumnya? Roman adalah sebuah cerita fiksi. Namun, mengingat namanya yang berasal dari bahasa Perancis, yakni Romance, roman menampilkan cerita yang berbau romantis.

Meskipun begitu, roman layaknya cerita kebanyakan yang mengangkat kisah dan ada temanya. Roman juga pada dasarnya bersifat klasik. Ada banyak roman yang bisa kita jumpai, seperti halnya Si Dul Anak Jakarta.

E. Struktur Teks Cerita Fiksi

Abstrak, merupakan cerita singkat dalam sebuah cerita yang panjang. Terkait abstrak dalam sebuah cerita sebenarnya boleh ada boleh juga tidak. Selain abstrak, ada struktur orientasi yang merupakan bagian dari tema, latar belakang, serta tokoh dalam cerita.

Ada struktur yang disebut komplikasi yang merupakan bagian berisikan masalah dan dihadapi oleh tokoh di dalam cerita. Selain itu, ada pula bagian evaluasi. Evaluasi biasa dimaknai pula sebagai pemecahan masalah.

Ada struktur cerita yang disebut resolusi. Sesuai dengan namanya, bagian ini adalah inti dari sebuah masalah dalam cerita. Terakhir, ada struktur yang berupa Koda. Koda disebut juga sebagai reorientasi dan merupakan bagian yang berisikan amanat atau pesan moral cerita.

F. Kaidah Kebahasaan Teks Cerita Fiksi

Cerita Fiksi disusun dengan menggunakan bahasa-bahasa tertentu yang disebut sebagai kaidah kebahasaan. Dalam cerita fiksi biasanya menggunakan 3 Kaidah Kebahasaan yang paling umum, yakni metafora, metonimia dan simile.

Cerita fiksi memiliki kaidah Ketatabahasaan sendiri. Kalau dibandingkan dengan puisi, jelas saja penggunaan kaidah bahasaannya berbeda. Nah! Buat kamu nih yang mau tahu seperti apa bahasa yang digunakan dalam cerita fiksi, berikut kami kasih tau.

a. Metafora

Kaidah Kebahasaan metafora sering terdengar di dunia cerita. Apa sih yang dimaksud dengan kaidah kebahasaan metafora? Kaidah kebahasaan metafora merupakan kaidah bahasa yang digunakan untuk membandingkan dua perumpamaan serupa namun bahasanya berbeda.

b. Simile

Pernah mendengar kaidah kebahasaan simile? Kaidah kebahasaan yang satu ini adalah kaidah kebahasaan yang berguna untuk membandingkan suatu hal secara eksplisit. Bukan hanya itu saja, bahkan juga mengusung kata seumpama, selayaknya, dan lainnya.

c. Metonimia

Metonimia biasa disebut sebagai kata yang digunakan untuk menggantikan kata sesuatu. Dalam hal penggunaan gaya bahasa ini juga hanya diperuntukkan bagi objek atau subjek yang memiliki hubungan dekat saja.

DAFTAR PUSTAKA 

Ahmad.(2022). Cerita Fiksi: Pengertian, Unsur, Jenis, Struktur dan Contoh. (Online)https://www.gramedia.com/best-seller/cerita-fiksi/-diunduh pada 13 Oktober 2022)

Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press


Genre Sastra Klasik


Nama : Aurel Gracia

Nim : 22016014

Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah

Dosen pengampu : Dr.abdurahman,M.pd.

Sesi(08.50-12.20)


A. Genre Sastra Klasik

       Pengertian Sastra Klasik Sastra lama Indonesia yang biasa distilatakan sastra klasik dapat diartikan sebagai karya sastro yang memakai bahasa Melayu Penggunaan bahasa Melayu ialah bahasa yang dipakai sebagai pangkal bahasa Indonesia Jika kita mengamati pembelajaran sastra lama dalam kajian filologi, maka hal yang dipelajari adalah naskah Pada saat kita mempelajan naskah maka akan terungkap bahasa yang dipakai, misalnya bahasa yang dipakai dalam naskah ialah bahasa Melayu dengan tulisan Arab, bersifat ononim, kadang terdapat nama penyalin yang terdapat dalam kolofon naskah atau informasi naskah Sasha kasik juga dapat diartikan sebagai karya yang dihasilkan oleh sastrawan yang berada pada zaman kerajaan atau masa ketika belum adanya pengerakan nasional

       Hasil sastra lama itu cukup besar jumlahnya Hal ini dapat dengan mudah kita ketahui dan kita buktikan dan beberapa katalogus naskah yang mendaftarkan dan menguraikan serba ringkas isi naskah itu yang umumnya terdapat di perpustakaan universitas dan bagian naskah di museum di Jakona, Leiden, London, Munich, Brusel Kuala Lumpur, dan lain-lain lihat Howard. 1966) Sebagai contoh di Musium Nasional Jakarta saja naskah Melayu itu terdaftar sebanyak 953 naskah lihat Sutoorga 199721 Data Data terakhir tahun 2013, Perpustakaan Nasional Ri memiliki total koleksi data primer berupa naskah Nusantara sebanyak 10.613eksemplar, sementara data primer berupa terbitan berkala berbentuk majalah lama sebanyak 6.285 judul. Di Leiden lebih banyak lagi yang terdaftar dalam katalogus Juinboll (1899) dan van Ronkel 19211 dan di London terdaftar dalam katalogus yang disusun oleh Rocklefs (1977), masa waktunya pun cukup lama yaitu sejak orang Meayu mengenal tulisan, khususnya tulisan Arab yang biasa disebut tulisan Arab-Melayu, diperkirakan abad ke-17, kemudian tulisan latin sampai dengan masa kita mengenal mesin cetak yang digunakan untuk menerbitkan karya sastra itu, yaitu zamon Balai Pustaka sekitar tahun 20-on sastra Indonesia Modem pada zaman Bolai Pustaka ini Sebelum zaman Balai Pustaka ini karya sastra yang ditulis dengan bahasa Melayu disebut sastra Melayu klasik otou sastra Indonesia lama

B.Perbedaan Sastra Klasik dengan Sastra Modem

Perbedaan sastra Melayu Klasik dengan sastra Modem Indonesia Jika menggunakan analogi Sastra ada setelah bahasa ada maka kesusastroan Indonesia baru ada mulai tahun 1928 Karena nama bahasa indonesia secara politis baru ada setelah bahasa Melayu di dikrarkan sebagai bahasa persatuan pada tanggal 28 Oktober 1928 yang dikenal dengan Sumpah Pemuda Namun menurut Ayip Rosidi dan A Teesaw, Kesusastraan Indonesia Modem ditandai dengan rasa kebangsaan pada karya sastra Contohnya seperti Moh Yamin, Sanusi Pane, Muh. Hatta yang

mengumumkan sajak-sajak mereka pada majalah Yong Sumatera sebelum tahun 1928 Cin dan sifat sastra modem, yaitu masyarakatnya muali kreatit Indo -Eropa Nonim, dan dinamis, serta tulis dan cetak Masa yang ada dalam sastra modem indonesia dibagi dalam (11a Masa Kebangkitan 11920-1945), yaitu: 11 Penode 1920 Angkatan Balai Pustakal 

C. Sifat Ciri Sastra Klasik

       Bicara sifat dan on sastra klasik terlebih dahulu harus gambarkan bahwa sastra klasik dapat dikatakan sebagai penode zaman asli prasejarah atau zaman nirekha, yakni zaman belum ada tulisan. Di zamn ini sastra berbentuk lean, puisi maupun prosa. Mula-mula lahir puisi yang berbentuk mantra, Mantra adalah alat ntual, jampi-jampi, pekasih, pengusir stan, dan sebaginya Selanjutnya berkembang menjadi bahasa benrama, kemudian muncul pantun, pusi ini mudah dihalal sebagai alat pergaulan Setelah itu muncul gunndam, sebgai alat persuasi adat dan nasehat. Benkutnya muncul pula mite, legenda, fable, dan centa jenaka dengan tokoh-tokohnya yang lucu

Contoh mantra agar anjing tidak melolong Pulanglah engkau kepada rimba sekampung Pulanglah engkau kepada mmba yang besar Pulanglah engkau kepada goung Guntung Pulanglah engkau kepada sungai tiada beshulu Pulanglah engkau kepada kolam tiada bergali Pulanglah engkau kepadatasik yang tiada berorang Pulanglah engkau kepada mata air yang tada kening. Jika engkau tak mau kembali mahlah engkau..

Bunyi mantra di atas memiliki daya magis yang terdapat pada bunyi gaya pararelisme dan inonim konotatif, seperti goung guntung yaitu kiasan lembah atau ngarai yang dalam sungai tiada berhulu, yaitu kiasan selat, kolam tiada todo bergal yaitu kiasan laut, tasik tioda berorang, yaitu kiasan danau di

tengah rimba, mata air yang tiada kering, mengandung kasan mba dan gunungnya.

Sementara ciri sastra klasik dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Statis, tidak mudah menenma pengaruh luar a statis dalam lukisan, sepem pujian kepada seorang gadis Rambutnya mayang terural dahinya seperti bulan 14 har, alisnya seperti semut betining bulu matanya lentik seperti siraut jatuh, matanya cemerlang seperti bintang timur atau matonya sayu seperti redup redup Min menyala, hidungnya mendasun tunggal pipinya seperti pauh dilayang bibimya delima merkah dogunya seperti lebah bergantung, giginya sebons mubara, lendangannya sebentuk gondewa, jari-jarinya mendunk landak, kukunya seperti bulan tiga har pahanya seperti paha belalang, betisnya seperti perut) pod tumitnya putih seperti telur burung, lenggangnya seperti hanmau kelaparan, merdu bicaranya seperti suara buluh perindu

b. Stats, fanatik dalam menggunakan dalil-dalil sebagap engantar sebuah uraian, seperti:

Kerajaan Kelantan, nasrun min Allah wa fathunq onbun wa basyir il mukminin Bantuan dan Allah dan Kemenangan telah dekat, khabarkanlah warta baik ini kepada mereka yang percaya (Kalimat dalam benderaKelantanSenang menggunakan istilah-istilah Arab sebagai pengantar amabakdu, al kissah, hatta, kata sahibulhikayat, pesan sahibulboet, dsb. 

C.Statis dalam bentuk karangan, mengutamakan persajakan, seolah-olah mengabaikan isi yang akan di sampaikan pantun syair, talibun 2 Anonim karya sastra dianggap punya bersama. Karena itu kita tidak mengetahui siapa pengarang pantun, talibun, gurindam, syair. Juga umumnya karya sastra bentuk prosa zaman ini.

D. Contoh-contoh Teks/Lisan Sastra Klasik Nusantara

1. Gurindam

Gurindam ini dibawa oleh orang Hindu atau pengaruh sastra Hindu. Gurindam berasal dari Bahasa Tamil (India) yaitu kirindam yang berarti mula-mula asal perumpamaan.

Gurindam adalah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua baris kalimat dengan irama akhir yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi. Gurindam berisi nasihat, petuah, ajaran moral kebaikan dan budi pekerti.

Ciri-ciri Gurindam adalah sebagai berikut:

1.Setiap bait terdiri atas dua baris atau larik

2.Biasanya menggunakan pola rima sama atau lurus (a – a)

3.Umumnya setiap baris terdiri atas 4-6 kata (8-12 suku kata)

4.Baris pertama dan kedua biasanya membangun hubungan sebab akibat

5.Umumnya mengandung petuah, nasihat, atau amsal (ucapan yang mengandung kebenaran).

2. Hikayat

Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa, terutama dalam Bahasa Melayu yang berisikan tentang kisah, cerita, dan dongeng. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama. Sebuah hikayat dibacakan sebagai hiburan, pelipur lara atau untuk membangkitkan semangat juang.

Ciri-ciri Hikayat:

1. Isiceritanya berkisar pada tokoh raja dan keluarganya.

2.Bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika tersendiri yang menyebutkannya fantastis.

3.Mempergunakan banyak kata arkais (klise).

4.Nama pengarang biasanya tidak disebutkan (anonim).

3. Karmina

Karmina atau pantun kilat adalah pantun yang terdiri dari dua baris. Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua adalah isi. Memiliki pola sajak lurus (a-a). Biasanya digunakan untuk menyampaikan sindiran ataupun ungkapan secara langsung.

Ciri-ciri Karmina :

Terdiri dari dua baris

Bersajak a-a

Terdiri dari 8-12 suku kata

Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua merupakan isi

Contoh pantun karmina :

Sudah gaharu cendana pula.

Sudah tahu masih bertanya pula.

4. Pantun

Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang berasal dari kata patuntun dalam bahasa Minangkabau yang berarti "petuntun". Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a (tidak boleh a-a-b-b, atau a-b-b-a). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.

Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.

Contoh Pantun:

Kayu cendana diatas batu

Sudah diikat dibawa pulang

Adat dunia memang begitu

Benda yang buruk memang terbuang

Tema talibun biasanya berdasarkan fungsi puisi tersebut. Contohnya seperti berikut:

Mengisahkan kebesaran/kehebatan sesuatu tempat dll

Mengisahkan keajaiban sesuatu benda/peristiwa

Mengisahkan kehebatan/kecantikan seseorang

Mengisahkan kecantikan seseorang

Mengisahkan kelakuan dan sikap manusia

Mengisahkan perlakuan dimasa lalu

Contoh Talibun:

Kalau anak pergi ke pekan

Yu beli belanak beli

Ikan panjang beli dahulu

Kalau anak pergi berjalan

Ibu cari sanakpun cari

Induk semang cari dahulu.

8.Bidal

Bidal adalah jenis puisi lama dalam bentuk peribahasa dalam sastra Melayu lama yang kebanyakan berisi sindiran, peringatan dan nasihat. Penulisan peribahasa di dalam bidal memiliki arti yang lugas serta memiliki irama dan rima. Bidal tidak memiliki aturan tertentu dalam penyusunan baris dan bait.

9.Seloka

Seloka adalah sajak yang mengandung ajaran,sindiran,dan sebagainya (Ali,2006:405). Seloka adalah pantun berkait yang tidak cukup dengan satu bait saja sbab pantun berkait merupakan jalinan atas beberapa bait. Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair,terkadang dapat pula ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris. Ciri–ciri :

1. Ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair

2. Namun ada seloka yang diyulis lebih dari empat baris.

DAFTAR PUSTAKA 

Attas, Gomo Siti. 2018. Sastra Klasik. Jakarta:Unj Press.

Pardede, Yolanda Naomi. (2021). Sastra Klasik.(Online).Pardede, Yolanda Naomi. (2021). Sastra Klasik.(Online).tugas-laporan-bacaan-minggu-ke-6.diunduh 13 Oktober 2022











Penyajian Masalah Semantik: Topik: Analisis Makna dalam Lirik Lagu Tulus: Album Monokrom

Nama          : Aurel Gracia Nim            : 22016014 Prodi        : Pendidikan bahasa dan sastra indonesia Analisis Makna dalam Lirik Lagu...