Kamis, 24 November 2022
Pendekatan Ekspresif dan Pragmatik
Sabtu, 19 November 2022
Pendekatan Objektif dan Mimetik
Nama : Aurel Gracia
Nim : 22016014
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah
Dosen pengampu : Dr.abdurahman,M.pd.
Sesi(08.50-12.20)
A. Pendekatan Objektif
Pendekatan objektif adalah pendekatan yang mendasarkan pada suatu karya sastra secara keseluruhan. Diperjelas oleh Hasanudin (Abidin 2010: 75) “pendekatan objektif merupakan pendekatan yang mengutamakan penyelidikan karya sastra berdasarkan kenyataan teks sastra itu sendiri”.
Pendekatan Objektif adalah pendekatan yang memberi perhatian penuh pada karya sastra sebagai struktur yang otonom, karena tulisan ini mengarah pada analisis karya sastra secara strukturalisme. Sehingga pendekatan strukturalisme dinamakan juga pendekatan objektif. Semi (1993:67) menyebutkan bahwa pendekatan struktural dinamakan juga pendekatan objektif, pendekatan formal, atau pendekatan analitik. Strukturalisme berpandangan bahwa untuk menikmati karya sastra secara objektif harus berdasarkan pemahaman terhadap teks karya sastra itu sendiri. Proses menganalisis diarahkan pada pemahaman terhadap bagian-bagian karya sastra dalam menyangga keseluruhan, dan sebaliknya bahwa keseluruhan itu sendiri dari bagian-bagian (Sayuti, 2001; 63). , Oleh karena itu, untuk memahami maknanya, karya sastra harus dianalisis berdasarkan strukturnya sendiri, lepas dari latar belakang sejarah, lepas dari diri dan niat penulis, dan lepas pula dari efeknya pada pembaca. Mengacu istilah Teeuw (1984:134), jadi yang penting hanyaclose reading , yaitu cara membaca yang bertitik tolak dari pendapat bahwa setiap bagian teks harus menduduki tempat di dalam seluruh struktur sehingga kait-mengait secara masuk akal (Pradotokusumo, 2005 : 66 ).
Suwondo (2001:55) berpendapat memahami sastra strukturalisme berarti memahami karya sastra dengan menolak campur tangan dari luar. Jadi memahami karya sastra berarti memahami unsur-unsur yang membangun struktur. Dengan demikian struktur analisis bermaksud memaparkan dengan cermat kaitan unsur-unsur dalam sastra sehingga menghasilkan makna secara menyeluruh. Rene Wellek (1958 : 24) menyatakan bahwa analisis sastra harus mengedepankan aspek intrinsik. Senada dengan pendapat tersebut Culler memandang bahwa karya sastra bersifat otonom yang maknanya tidak ditentukan oleh hal di luar karya sastra itu (Culler, 1977:127). Istilah lainnya anti kausal dan anti balas historis (Djojosuroto, 2006:35).
Analisis karya sastra dengan pendekatan strukturalisme memiliki berbagai kelebihan, diantaranya
(1) pendekatan struktural memberi peluang untuk melakukan telaah atau kajian sastra secara lebih rinci dan lebih mendalam
(2) pendekatan ini mencoba melihat sastra sebagai sebuah karya sastra dengan hanya mempersoalkan apa yang ada di dalam dirinya,
(3) memberi umpan balik kepada penulis sehingga dapat mendorong penulis untuk menulis secara lebih berhati-hati dan teliti (Semi, 1993: 70).
Selain memiliki beberapa kelebihan, pendekatan ini juga mengandung berbagai kelemahan. Secara terinci Teeuw menjelaskan empat kelemahan strukturalisme murni, yakni:
1) strukturalisme belum terpahami mengungkapkan teori sastra yang lengkap,
2) karya sastra tidak dapat diteliti secara terasing dan harus dalam suatu sistem satra dengan latar belakang sejarahnya,
3) adanya unsur tujuan dalam karya sastra disangsikan karena pembaca cukup dalam turut memberi makna,
4) menemukan puisi yang menitikberatkan otonomi puisi menghilangkan konteks dan fungsinya sehingga puisi dimenaragadingkan dan kehilangan relevansi sosialnya (Teeuw, 1984 : 176).
B.Penerapan Pendekatan Objektif
Pendekatan ini lebih banyak digunakan dalam bidang puisi (Jefferson, 1982:84) Tulisan ini pun bermaksud menerapkan pendekatan tujuan dalam menganalisis puisi. Dalam lingkup puisi, Pradopo (2000: 14) menguraikan bahwa karya sastra itu tak hanya merupakan satu sistem norma, melainkan terdiri dari beberapa strata (lapis) norma. Masing-masing norma menimbulkan lapis norma dibawahnya. Mengacu pendapat Roman Ingarden, seorang filsuf Polandia, Rene Wellek dalam Pradopo (2000:14) menguraikan norma-norma itu , yaitu
(1) lapis bunyi ( sound stratum ), misalnya bunyi suara dalam kata, frase, dan kalimat, (2) lapis arti ( satuan makna), misalnya arti dalam fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat,
(3) lapis objek, misalnya objek-objek yang dikemukakan seperti latar, pelaku, dan pengarang dunia.
Selanjutnya Roman Ingarden masih menambahkan dua lapis norma lagi
(1) lapis dunia
(2) lapis metafisis.
Waluyo (1987: 145) menjelaskan, struktur puisi dibangun oleh fisik (metode pengucapan makna) dan struktur batin (makna) puisi.Secaraederhana, penerapan pendekatan tujuan dalam menganilis karya sastra dalam hal ini Puisi , dapat diformulasikan sebagai berikut . Pertama, mendeskripsikan unsur-unsur struktur karya sastra. Kedua, mengkaji keterkaitan makna antara unusr -unsur yang satu dengan lainnya. Ketiga,mendeskripsikan fungsi serta hubungan antar unsur (intrinsik) karya yang bersangkutan .
Adapun langkah-langkah menelaah puisi dapat melalui tahap-tahap yang dikemukakan oleh Waluyo (1987: 146), tahap:
1) menentukan struktur karya sastra,
2) menentukan penyair dan kenyataan sejarah, 3) menelah unsur-unsur, dan
4) sintesis dan interpretasi .
Dengan empat tahap tersebut, puisi diharapkan dapat dipahami sebagai struktur dan sebagai suatu pribadi yang bulat dan utuh. Sejalan dengan itu Djojosuroto (2006:60) mengemukakan analisis strategi pemahaman puisi. Strategi tersebut dimulai dengan :
1) pemahaman makna kata,
2) pemahaman baris dan bait, dan
3) pemahaman totalitas makna.
C.Pendekatan Mimetik
Semi (1985:43) menuliskan bahwa pendekatan mimetik bertolak dari pemikiran bahwa sastra -sebagaimana hasil seni yang lain- merupakan pencerminan atau representasi kehidupan nyata. Sastra merupakan tiruan atau pemaduan antara kenyataan dengan imajinasi pengarang atau hasil imajinasi pengarang yang bertolak dari suatu kenyataan. Jika berbicara tentang teori
Mimetik, kita tidak dapat terlepas dari pengaruh dua orang filsuf besar dari Yunani, yaitu Plato dan Aristoteles. Plato berpendapat bahwa seni hanyalah tiruan alam yang nilainya jauh di bawah realitas sosial dan ide, sedangkan Aristoteles menyatakan bahwa tiruan itu justru membedakannya dari segala sesuatu yang nyata dan umum karena seni merupakan aktivitas manusia. Sementara, Aristoteles sebagai murid dari Plato berbeda pendapat. Aristoteles menganggap karya seni adalah berada di atas kenyataan karena karya seni sebagai katalisator untuk menyucikan jiwa manusia.
Menurut Abrams pendekatan mimetik merupakan pendekatan estetis yang paling primitif, pendekatan mimetik adalah pendekatan yang memandang prosa fiksi sebagai hasil ciptaan manusia yang ditulis berdasarkan bahan-bahan yang diangkat dan semesta. Akar sejarahnya terkandung dalam pandangan Plato dan Aristoteles. Menurut Plato, dasar pertimbangannya adalah dunia pengalaman, yaitu karya sastra itu sendiri tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya, melainkan hanya sebagai peniruan secara hierarkis dengan demikian karya seni berada di bawah kenyataan. Pandangan ini ditolak oleh Aristoteles dengan argumentasi bahwa karya seni berusaha menyucikan jiwa manusia.
Teori mimetik adalah pendekatan-pendekatan estetik dalam studi sastra yang paling sederhana dan kuno, karena adanya diskusi yang diadakan oleh filosof Plato dengan murid-muridnya pada lebih darii 2000 tahun yang lalu, kemudian ditentang muridnya Aristoteles. Dalam diskusi Plato tersebut dipaparkan secara panjang lebar hubungan dunia kenyataan dengan puisi. Hubungan antara karya sastra dalam makalah ini dengan dunia kenyataan sangatlah kompleks. Hal ini sesuai pendapat Teeuw (1984:219) yang menyatakan, kehidupan nyata selain dengan terkait ilmu sastra, juga terkait dengan maslah filsafat, psikologi, sosiologi, dan lain sebagainya. Peristiwa mimetik sebuah karya sastra ini juga dipertegaskan oleh Wellek dan Warren (1989:109), yang mengatakan sifat sastra memang menyajikan sebagian besar tentang kehidupan, sementara itu kehidupan dunia nyata merupakan keadaan sosial masyarakat. Jadi ada faktor tiruan terhadap keadaan sosial dunia nyata dalam karya sastra.
1.Pandangan Aristoteles mengenai mimetik
Aristoteles adalah seorang pelopor penentangan pandangan Plato tentang mimesis, yang berarti juga menentang pandangan rendah Plato terhadap seni. Apabila Plato beranggapan bahwa seni hanya merendahkan manusia karena menghimbau nafsu dan emosi. Aristoteles justru menganggap seni sebagai sesuau yang Lisa meninggikan akal budi. Teew (1984: 221) mengatakan bila Aristoteles memandang seni sebagai katharsis, penyucian terhadap jiwa. Karya seni oleh Aristoteles dianggap menimbulkan kekhawatiran dan rasa khas kasihan yang dapat membebaskan dan nafsu rendah penikmatnya.
2.Pandangan Plato mengenai mimesis
Pandangan Plato mengenai mimesis sangat dipengaruhi oleh pandangannya mengenai konsep Idea-idea yang kemudian mempengaruhi bagaimana
pandangannya mengenai seni. Menurut pandangan Plato, segala yang ada di dunia ini sebenarnya hanya merupakan tiruan dari kenyataan tertinggi yang berada di dunia gagasan. Dalam dunia gagasan, ada gagasan mengenai manusia, semua manusia yang ada di dunia ini (manusia nyata) adalah tiruan dari manusia yang ada di dunia gagasan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Pradotokusumo, Partini Sardjono. 2005. Pengkajian Sastra.Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Septiaj, Aji, Sefia, yayah, Ayum. (2018). Kritik Sastra Mimetik. Jurnal pendidikan Vol. 2 No. 1 Februari 2018.
Teeuw.A. 1984. Satra dan Ilmu Satra . Jakarta: Pustaka Jaya.
Rabu, 09 November 2022
Aliran-aliran Sastra
Kamis, 03 November 2022
Puisi
Nama : Aurel Gracia
Nim : 22016014
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah
Dosen pengampu : Dr.abdurahman,M.pd.
Sesi(08.50-12.20)
1. Pengertian Puisi
Dalam bahasa Indonesia (Melayu) dahulu hanya dikenal satu istilah sajak yang berarti poezie ataupun gedicht. Poezie (puisi) adalah jenis sastra (genre) yang berpasangan dengan istilah prosa. Gedicht adalah indifidu karya sastra, dalam bahasa Indonesia sajak, misalnya sajak Aku. Jadi, dalam bahasa Indonesia hanya ada istilah sajak, baik untuk poezie maupun untuk gedicht.
Dalam bahasa Inggris ada istilah poetry sebagai istilah jenis sastra: puisi, dan poem sebagai indifidunya. Oleh karena itu, istilah puisi itu sebaiknya dipergunakan sebagai jenis sastra: poetry, sedangkan sajak untuk indifidu puisi: poem. Dengan demikian, penggunaan istilah puisi dan sajak tidak dikacaukan. Misalnya, antologi puisi, puisi Chairil Anwar untuk menunjuk jenis sastranya, sedangkan untuk indifidu sajak Aku, sajak Pahlawan Tak Dikenal.
A. Puisi menurut Pengertian Lama
Dalam buku pelajaran kesusastraan untuk SMU, masih tampak adanya pengertian puisi menurut pandangan lama, salah satunya dalam buku Wirjosoedarmo (1984: 51) sebagai berikut. Puisi itu karangan yang terikat, terikat oleh (a) banyak baris dalam tiap bait (kuplet/strofa, suku karangan); (b) banyak kata dalam tiap baris; (c) banyak suku kata dalam tiap baris; (d) rima; dan (e) irama.
Kalau Anda perhatikan contoh syair dan sajak Rustam Effendi, penyair Pujangga Baru, tampaklah bahwa kedua sajak itu sesuai dengan pengertian atau definisi yang dikemukakan Wirjosoedarmo.
B. Puisi menurut Pengertian Baru
Para penyair baru (modern) menulis puisi tanpa mempedulikan ikatanikatan formal seperti puisi lama. Akan tetapi, mengapa tulisannya atau hasil karyanya masih disebut sebagai puisi?
Hal ini disebabkan oleh pemahaman bahwa bentuk-bentuk formal itu hanya merupakan sarana-sarana kepuitisan saja, bukan hakikat puisi. Penyair dapat menulis dan mengombinasikan sarana-sarana kepuitisan yang disukainya. Sarana kepuisian dipilih dengan tujuan untuk dapat mengekspresikan pengalaman jiwanya. Para penyair Angkatan 45 memilih sarana kepuitisan yang berupa diksi atau pilihan kata secara tepat, pilihan kata yang dapat memberikan makna seintensitas mungkin, yang dapat merontgen ke putih tulang belulang, kata Chairil Anwar (Jassin, 1978: 136). Sarana kepuitisan yang berupa sajak akhir masih dipergunakan juga demi intensitas arti atau maknanya. Akan tetapi, sajak akhir itu harus berupa pola bunyi yang teratur dan tetap.
2. Aspek Puisi
Ada 3 aspek yang perlu diperhatikan dalam memahami puisi, yaitu Sifat Seni atau Estetik, Kepadatan, dan Ekspresi Tidak Langsung.
A. SIFAT ESTETIK
Puisi adalah karya seni sastra. Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra. Rene Wellek dan Warren (1968: 25) mengemukakan: “paling baik kita memandang kesusastraan sebagai karya yang di dalamnya memiliki fungsi estetika yang dominan.”
Tanpa fungsi seni itu karya kebahasaan tidak dapat disebut karya (seni) sastra. Sementara itu, kita dapat mengenal adanya unsur-unsur estetik (keindahan) misalnya gaya bahasa dan komposisi. Puisi sebagai sebagai karya sastra mengandung fungsi estetika yang sangat dominant, artinya di dalam puisi tersebut terdapat unsur-unsur estetika atau keindahan. Unsurunsur keindahan ini merupakan unsur-unsur kepuitisannya, misalnya persajakan, diksi (pilihan kata), irama, dan gaya bahasa. Gaya bahasa meliputi semua penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapatkan efek tertentu, yaitu efek estetika atau aspek kepuitisan yaitu bunyi, kata, kalimat, dan wacana yang dipergunakan secara khusus untuk mendapatkan efek tertentu itu. Semua itu merupakan aspek estetika atau aspek keindahan puisi.
Untuk menjelaskan fungsi estetika puisi yang mempunyai aspek bermacam-macam itu, marilah kita ambil contoh sajak-sajak dan kita komentari.
B. KEPADATAN
Membuat sajak itu merupakan aktivitas pemadatan. Dalam puisi tidak semua peristiwa itu diceritakan. Hal yang dikemukakan dalam puisi hanyalah inti masalah, peristiwa, atau inti cerita. Hal yang dikemukakan dalam puisi adalah esensi sesuatu, jadi puisi itu merupakan ekspresi esensi. Oleh karena puisi itu mampat dan padat maka penyair memilihkata dengan akurat (Altenbernd, 1970: 9).
Untuk pemadatan ini, kadang-kadang kata-kata hanya diambil inti dasarnya. Imbuhan, awalan, dan akhiran sering dihilangkan.
C. EKSPRESI TIDAK LANGSUNG
Di atas telah dikemukakan bahwa sajak “Selamat Tinggal” penuh kiasan. Kiasan ini merupakan salah satu ekspresi atau pengucapan tidak langsung. Apakah ekspresi tidak langsung itu merupakan hakikat puisi? kita tinjau hal ini sebagai penjelasan berikut.
Puisi itu sepanjang zaman selalu berubah seperti telah kita lihat dalam Kegiatan Belajar 1. Dikemukakan oleh Riffaterre (1978: 1) bahwa sepanjang waktu, dari waktu ke waktu, puisi itu selalu berubah. Perubahan itu disebabkan oleh evolusi selera dan perubahan konsep estetik. Akan tetapi, satu hal yang tidak berubah, yaitu puisi itu mengucapkan sesuatu secara tidak langsung. Ucapan tidak langsung itu ialah menyatakan suatu hal dengan arti yang lain.
Ketidaklangsungan ekspresi ini menurut Riffeterre (1978: 2) disebabkan oleh 3 hal, yaitu (1) penggantian arti (displacing of meaning),(2) penyimpangan atau pemencongan arti (distorting of meaning), (3) penciptaan arti (creating of meaning). Marilah kita bicarakan satu per satu supaya menjadi jelas.
1. Penggantian Arti
Penggantian arti ini (Riffaterre, 1987: 2) disebabkan oleh penggunaan metafora dan metomini. Metafora dan metomini adalah salah satu bahasa kiasan. Akan tetapi, yang dimaksudkan metafora dan metonimi disini adalah bahasa kiasan pada umumnya. Bahasa kiasan itu merupakan ucapan tidak langsung. Bahasa kiasan terdiri atas (a) Perumpamaan (simile), (b) metafora,(c) personifikasi, (d) metonimi, (e) sinekdoki, (f) perumpamaan (epic simile),dan (f) alegori. Jadi, metafora dan metonimi adalah salah satu jenis bahasa kiasan.Perumpamaan (simile) mengiaskan sesuatu dengan kaata pembanding:seperti, sebagai, bak, seumpama. Bahasa kiasan itu dipergunakan untuk membuat gambaran menjadi jelas.
2. Penyimpangan Arti
Penyimpangan arti atau pemencongan arti ini (Riffaterre, 1978: 2) disebabkan oleh penggunaan (a) ambiguitas, (b) kontradiksi, dan (c) nonsense.
Ambiguitas adalah ketaksaan, yaitu kata yang mempunyai arti lebih dari satu atau dapat ditafsirkan bermacam-macam makna. Ambiguitas itu dapat berupa kata, frase (kelompok kata) atau kalimat.
3. Penciptaan Arti
Penciptaan arti (Riffaterre, 1978: 2) adalah pengorganisasian ruang teks untuk menciptakan arti. Ruang teks itu secara linguistik, secara kebahasaan, tidak ada artinya. Di antaranya pola persajakan, enjambemen, tipografi, dan homologue.
Persajakan itu misalnya sajak akhir, asonansi dan aliterasi, secara linguistik tidak ada artinya, tetapi dalam sajak menimbulkan arti atau makna; makna keindahan, makna penyangatan pernyataan atau makna yang lain.
Enjambemen itu perloncatan baris; baris kalimat yang belum selesai diputus dan diloncatkan kebaris di bawahnya. Gunanya untuk memberi perhatian atau ketegangan kata terakhir dalam baris ituatau kata pertama dalam baris berikutnya. Misalnya, dalam bait pertama sajak Sebuah jendela menyerahkan kamar ini belum selesai, diloncatkan pada baris berikutnya pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam-/mau lebih banyak tahu.
Tipografi adalah tata huruf (lihat contoh sajak Tragedi Winka & Sihka dalam Modul 2. Tata huruf dibuat berliku-liku seperti kelok-kelok jalan yang berbahaya. Secara linguistik, tipografi berkelok-kelok itu tidak ada artinya. Akan tetapi, dalam sajak itu, karena konvensi sistem tanda, dapat mempunyai makna. Di situ berarti perkawinan yang penuh kasih itu, melalui jalan kehidupan yang berkelok-kelok penuh bahaya, dapat berakhir dengan perceraian (Winka) yang penuh kedamaian (sihka). Itulah sebuah tragedi winka & sihka. Kata-kata kalau dibalik (dimetatesiskan) artinya berbalikan juga. Misalnya, Tuhan kalau dibalik menjadi hantu. Tuhan itu maha kasih, hantu itu maha jahat.
3. Fungsi Puisi
Sesuai dengan sifat dan hakikat puisi yang merupakan ekspresi tidak langsung, kegunaan puisi ini juga tidak langsung, yaitu kegunaan yang bersifat spiritual bagi kehidupan batin dan kejiwaan manusia. Puisi mempengaruhi kehidupan manusia lewat kehidupan batin dan kejiwaannya. Lewat kehidupan kejiwaan ini, pasti mempengaruhi aktivitas kehidupan fisik manusia. Misalnya, aktivitas perjuangan bangsa menuju kemerdekaan bangsa seperti disarankan oleh puisi berjiwa kebangsaan yang ditulis oleh para penyair Pujangga Baru.
Jenis-jenis kegunaan puisi itu banyak sekali sesuai dengan kandungan isinya. Akan tetapi, dalam uraian ini kita ambil yang penting-penting saja antara lain, manfaat yang berkaitan dengan (1) ketuhanan atau keagamaan, (2) kualitas diri, (3) tanah air, (4) sesama manusia, (5) manfaat puisi terhadap seni dan kebudayaan.
1. Manfaat Puisi terhadap Rasa Ketuhanan
Puisi dapat mendekatkan diri manusia kepada Tuhan, Sang Pencipta, Yang Maha Rahman. Ada beberapa sajak religius yang terkenal, misalnya Padamu Jua karya Amir Hamzah, Doa sajak Chairil Anwar.
2. Manfaat Puisi terhadap Kualitas Diri
Puisi dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas diri dengan cara mengevaluasi tingkah laku, mengintrospeksi diri secara jujur. Hal ini tampak dalam sajak Chairil anwar Selamat Tinggal yang telah dikutip di depan. Dengan berkaca, melihat diri sendiri, merenungi keadaan diri sendiri, si aku melihat cacat-cacat dan kekurangan dirinya. Dalam sajak M. Taslim Ali berikut tampak siapa atau apa hakikat manusia sesungguhnya.
3. Manfaat Puisi terhadap Rasa Cinta pada Tanah Air
Sajak juga dapat membangkitkan rasa cinta pada tanah air, membangkitkan semangat berjuang untuk merebut kemerdekaan. Hal ini dapat kita lihat pada Sajak Asmara Hadi Bangsaku Bersatulah yang telah kita bicarakan di atas. Dalam sajak Tanah Bahagia karya Sanusi Pane, si aku ingin menuju ke tanah bahagia yaitu tanah Indonesia yang merdeka. Pada waktu itu Indonesia masih dijajah Belanda (1932). Oleh karena itu, si aku selalu bersedih hati, sengsara setiap hari. Si aku merindukan tanah bahagia yang bersinar emas permata. Secara tidak langsung si aku mengiaskan bangsa Indonesia yang menginginkan kemerdekaan
4. Manfaat Puisi terhadap Hubungan Sesama Manusia
Puisi juga dapat membangkitkan rasa cinta kepada sesama, kepada orang-orang sebangsa yang menderita. Puisi mengajak mengentas kemiskinan, membantu yang lemah. Dalam sajak Buat Saudara Kandung, Hartoyo Andangdjaya menyebut kaum sebangsa sebagai saudara kandung. Mereka adalah rakyat kecil yang hidup menderita, yang harus dientas dari penderitaan dan kemiskinan. Meskipun sudah lama merdeka, tetapi mereka masih hidup dalam penderitaan.
5. Manfaat Puisi terhadap Kebudayaan
Puisi juga dapat merangsang tumbuhnya rasa cinta terhadap kebudayaan sendiri. Sering kali kita lupa bahwa kita telah mempunyai kebudayaan yang tinggi. Kita lupa memeliharanya, padahal bangsa asing sering ingin mempelajarinya, seperti mempelajari seni pedalangan, gamelan, seni tari. Mereka juga ingin memiliki benda-benda hasil kebudayaan kita, seperti patung, lukisan, keris, dan alat-alat gamelan atau kesenian yang lainnya. Sajak Ajib Rosidi berikut ini mengajak kita untuk memelihara kebudayaan dan kesenian kita.
4. Unsur-unsur Puisi
Dalam membentuk puisi terdapat dua unsur yaitu, unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Agar lebih memahami lebih jelas, simak penjelasan unsur-unsur puisi berikut ini yang dirangkum dari buku Analisis Unsur Pembangunan Puisi yang ditulis oleh Sutji Harijanti, yaitu:
a. Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik puisi adalah unsur yang terkandung dalam puisi dan memengaruhi puisi sebagai karya sastra.
1. Diksi atau pilihan kata
Dalam membangun puisi, penulis memilih kata dengan cermat dengan cara mempertimbangkan makna. Selain itu, kedudukan kata dalam suatu puisi keseluruhan.
2. Daya bayang atau imaji
Imaji ketika membangun puisi adalah penggunaan kata-kata yang konkret dan khas yang dapat menimbulkan imaji visual, auditif, dan taktil.
3. Gaya bahasa atau majas
Gaya bahasa dalam puisi yaitu bahasa yang dipakai penyair untuk mengatakan sesuatu dengan memakai kata-kata yang bermakna kiasan.
4. Bunyi
Bunyi dalam puisi mengacu pada penggunaan kata tertentu sehingga menimbulkan efek nuansa berbeda.
5. Rima
Rima adalah persamaan bunyi dalam puisi yang bertujuan untuk menimbulkan efek keindahan.
6. Ritme
Selain rima, dalam puisi juga diperlukan adanya ritme, ritme dalam puisi adalah dinamika suara dalam puisi agar tidak monoton bagi penikmat puisi.
7. Tema
Tema dalam puisi adalah gagasan pokok yang ingin disampaikan oleh penulis melalui puisinya.
b. Unsur ekstrinsik
Unsur ekstrinsik puisi adalah unsur-unsur yang berada di luar puisi dan mempengaruhi kehadiran puisi sebagai karya seni. Adapun yang termasuk dalam unsur ekstrinsik puisi yaitu aspek historis, psikologis, filsafat, dan religius.
1. Aspek historis, adalah unsur kesejarahan atau gagasan yang terkandung dalam puisi.
2. Aspek psikologis, adalah aspek kejiwaan pengarang yang termuat dalam puisi.
3. Aspek filsafat, filsafat berkaitan erat dengan puisi atau karya sastra keseluruhan.
4. Aspek religius, dalam puisi mengacu pada tema yang umum diangkat dalam puisi oleh penyair.
DAFTAR PUSTAKA
Alisyahbana, S. Takdir. (1996). Puisi lama. Jakarta: Dian Rakyat.
Andangdjaya, Hartoyo. (1973). Buku Puisi. Jakarta: Pustaka Jaya.
Rabu, 26 Oktober 2022
Drama
Nama : Aurel Gracia
Nim : 22016014
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah
Dosen pengampu : Dr.abdurahman,M.pd.
Sesi(08.50-12.20)
Rabu, 12 Oktober 2022
Fiksi
Nama : Aurel Gracia
Nim : 22016014
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah
Dosen pengampu : Dr.abdurahman,M.pd.
Sesi(08.50-12.20)
A. Pengertian Cerita Fiksi
Cerita fiksi adalah cerita yang hanya memutar kejadian fantasi semata.Karena cerita fiksi merupakan fantasi, maka tidak heran jika disebut sebagai angan-angan. Hadirnya cerita fiksi tidak lain hanya untuk dijadikan hiburan semata. Bahkan bisa dibilang cerita ini hanya karya dari pengarangnya.
Fiksi adalah sebuah narasi yang sebagian atau seluruhnya berkaitan dengan peristiwa yang tidak faktual melainkan imajiner dan diciptakan oleh seseorang berdasarkan imajinasinya. Baik itu berbentuk tontonan, pendengaran ataupun tulisan. Secara kasar bahasa, fiksi bermakna sebuah tipuan.
Karya fiksi mengambil langkah dalam bentuk cerita, untuk menyampaikan poin, perspektif pengarang, atau hanya sekedar untuk menghibur. Pada dasarnya karya jenis ini tidak butuh pada fakta, logika atau kisah nyata. Apa dan bagaimana isinya, semua tergantung pada sang pengarangnya. Fiksi merupakan sesuatu yang timbul dari dunia khayalan. Malah sebaliknya, ketika fiksi telah berdasarkan fakta secara keseluruhan, maka tak lagi berbentuk fiksi, melainkan sebuah sejarah.
Memang ada beberapa karya fiksi yang berdasarkan pada kisah nyata, namun ketika ia telah dirangkai dan dibumbuhi imajinasi, ketika itu pula jenisnya berganti menjadi fiksi. Ia tak lagi disebut sebagai sejarah atau sebuah fakta. Ibarat pepatah, karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Sejarah akan tetap berbentuk sejarah, manakala nama, tempat dan tanggal tak berubah sedikitpun.
Pengertian Fiksi Menurut Para Ahli :
· Nurgiyantoro (2007: 2-3), fiksi dapat diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia.
· Fiksi adalah karangan yang di dalamnya terdapat unsur khayal atau imajinasi pengarang (Aceng Hasani, 2005: 21).
· Di lain pihak, Sudjiman (1984:17) yang menyebut fiksi ini dengan istilah cerita rekaan juga memaparkan mengenai pengertian fiksi, yaitu kisahan yang mempunyai tokoh, lakuan, dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi, dalam ragam prosa. Dalam hal ini, Sudjiman menjelaskan bahwa karangan fiksi merupakan hasil imajinasi seorang pengarang yang didalamnya mengandung unsur-unsur seperti tokoh, alur, dan lainnya. Unsur-unsur tersebut saling berkesinambungan agar terjadinya sebuah cerita.
B. Unsur Intrinsik Cerita Fiksi
Dalam cerita fiksi pada dasarnya tidak hanya menyajikan bentuk cerita saja. Melainkan dalam komponen cerita juga terdapat berbagai. Unsur yang membangun adanya cerita fiksi. So, di bawah ini adalah serangkaian unsur yang paling umum di dalam cerita fiksi.
1. Tema
Siapa sih yang tidak kenal dengan tema? Tema merupakan gagasan atau ide utama dari sebuah cerita. Entah mau seberapa panjang cerita tersebut, pasti memiliki tema. Nah! Biasanya, cerita yang panjang justru memiliki lebih dari sebuah tema.
2. Alur
Selain tema, dalam sebuah cerita ada juga yang disebut alur. Alur menggambarkan keseluruhan dari sebuah cerita. Bahkan setiap cerita memiliki alur yang berbeda. Entah itu mau akur maju, mundur atau campuran.
3. Tokoh
Dalam sebuah cerita sudah dipastikan ada tokohnya. Tokoh juga biasa disebut karakter. Nah! Dalam suatu cerita, tokoh tidak hanya manusia saja. Jika ceritanya menceritakan kisah binatang, maka tokohnya bisa berupa binatang.
4. Latar
Penikmat sebuah cerita pasti tahu kalau di sebuah cerita tidak hanya terdiri dari 3 unsur di atas saja. Melainkan ada juga latar. Latar mengisahkan suasana, waktu, dan tempat yang berbeda dalam sebuah cerita.
5. Konflik
Dalam sebuah cerita sudah pasti terdapat adanya konflik. Konflik dalam cerita bertujuan untuk membangkitkan emosi para pembacanya. Namun bukan hanya itu Sajam konflik sebuah masalah juga bertahap. Mulai dari yang paling awal sampai tahap penyelesaian konflik.
6. Sudut Pandang
Kalau sudut pandang adalah terkait Point of View si penulisnya. Sudut pandang dalam sebuah cerita berbeda dengan cerita yang lainnya. Bisa dikatakan, sebuah cerita memakai sudut pandang orang pertama jika mengisahkan tentang ‘saya’.
Jika cerita mengisahkan sudut pandang orang kedua, maka mengisahkan tentang ‘dia’. Namun, ada pula sudut pandang orang ketiga, mengisahkan kehidupan seseorang, di mana penulis seolah hanya berperan sebagai pengamat saja.
7. Percakapan
Perlu kamu ketahui, dalam sebuah cerita pastinya terdapat dialog. Nah! Dialog dalam cerita fiksi berbeda dengan dialog yang terjadi di dunia nyata. Bisa dibilang dialog cerita fiksi cenderung menampilkan poin-poin pentingnya saja.
Unsur Intrinsik Cerita Fiksi
Dalam sebuah cerita terdapat unsur. Unsurnya ada unsur instrinsik yang berfungsi untuk membangun sebuah cerita dalam suatu cerita fiksi. Dimana padu padan dalam sebuah cerita terjadi karena adanya unsur intrinsik. Unsur intrinsik terbagi menjadi beberapa bagian.
Pertama, ada tema. Tema sama halnya gagasan utama dalam sebuah cerita. Kedua, ada tokoh. Tokoh adalah peran yang ada di dalam sebuah cerita. Terkait tokoh bisa terdiri atas beberapa sifat sesuai dengan peran dari tokohnya.
Selain itu, ada latar. Mengenai latar sebenarnya bisa mencakup latar waktu, tempat, atau suasana. Ada pula unsur yang disebut sebagai alur. Alur adalah jalan cerita. Dalam setiap cerita terdapat alur yang berbeda-beda. Ada yang pakai alur maju, mundur, atau campuran.
Selain itu, ada pula sudut pandang. Sesuai dengan namanya, sudut pandang merupakan pandangan penulis. Ada pula yang disebut sebagai amanat, adalah pesan yang terkandung di dalam sebuah cerita.
Untuk lebih memahami berbagai unsur yang ada pada sebuah cerita dan dapat langsung mengaplikasikannya, Grameds dapat membaca buku Yuk, Menulis! Diary, Puisi, Dan Cerita Fiksi.
C. Unsur Ekstrinsik Cerita Fiksi
Selain unsur intrinsik yang membangun sebuah cerita, ada pula unsur Ekstrinsik. Unsur Ekstrinsik adalah salah satu unsur yang mempengaruhi si penulis cerita tersebut. Ada beberapa hal yang akan dikaji dari unsur Ekstrinsik ini. Diantaranya adalah sebagai berikut!
Hubungan penulis dengan dunia sastra. Biasanya mencakup latar belakang kehidupan sang pengarang yang mempengaruhi kondisi kejiwaan, latar belakang penulis di kehidupan masyarakat, serta hubungannya dengan negara atau politik.
Hubungan ide penulis dengan sastra yang berupa ideologi, filsafat, pengetahuan, dan teknologi.
Hubungan segala aspek yang akan memengaruhi cerita. Baik itu aspek pendidikan, aspek ekonomi, aspek budaya, politik, dan lainnya.
Hubungan sastra dengan semangat zaman serta bagaimana sang pengarang menceritakannya.
D. Jenis Cerita Fiksi
1. Novel
Novel merupakan salah satu bagian dari sebuah cerita fiksi. Mengenai novel sebenarnya sebuah cerita dengan pemaparan kisah yang panjang. Di dalam novel juga terjadi interaksi antara tokoh satu dengan tokoh lainnya. Bahkan novel menampilkan konflik yang tinggi.
Selain itu, novel juga biasanya menceritakan alur kehidupan tokoh dari lahir hingga dewasa. Konfliknya tidak hanya dipaparkan secara singkat dan jelas, bahkan bisa berkepanjangan. Terkait hal ini pula novel biasanya memiliki konflik pro dan kontra.
Contoh-contoh novel :
a. Novel Nebula – Tere Liye
b. More Of You – Acha Sinaga & Andy Ambarita
2. Cerpen
Selain novel, cerita fiksi juga ada cerpen atau cerita pendek. Terkait dengan hal ini, cerpen jelasnya lebih singkat daripada novel. Cerpen hanya menampilkan kisah yang fokus pada tujuan. Tidak layaknya novel yang berkepanjangan, karakter cerpen juga dibatasi.
Selain itu, tidak ada konflik yang terlalu rumit. Pada dasarnya cerpen hanya menampilkan bagian fokus ke akar permasalahannya saja. Dari pada itu, cerpen biasa disebut sebagai cerita sekali duduk.
3 Roman
Pernahkah mendengar istilah roman sebelumnya? Roman adalah sebuah cerita fiksi. Namun, mengingat namanya yang berasal dari bahasa Perancis, yakni Romance, roman menampilkan cerita yang berbau romantis.
Meskipun begitu, roman layaknya cerita kebanyakan yang mengangkat kisah dan ada temanya. Roman juga pada dasarnya bersifat klasik. Ada banyak roman yang bisa kita jumpai, seperti halnya Si Dul Anak Jakarta.
E. Struktur Teks Cerita Fiksi
Abstrak, merupakan cerita singkat dalam sebuah cerita yang panjang. Terkait abstrak dalam sebuah cerita sebenarnya boleh ada boleh juga tidak. Selain abstrak, ada struktur orientasi yang merupakan bagian dari tema, latar belakang, serta tokoh dalam cerita.
Ada struktur yang disebut komplikasi yang merupakan bagian berisikan masalah dan dihadapi oleh tokoh di dalam cerita. Selain itu, ada pula bagian evaluasi. Evaluasi biasa dimaknai pula sebagai pemecahan masalah.
Ada struktur cerita yang disebut resolusi. Sesuai dengan namanya, bagian ini adalah inti dari sebuah masalah dalam cerita. Terakhir, ada struktur yang berupa Koda. Koda disebut juga sebagai reorientasi dan merupakan bagian yang berisikan amanat atau pesan moral cerita.
F. Kaidah Kebahasaan Teks Cerita Fiksi
Cerita Fiksi disusun dengan menggunakan bahasa-bahasa tertentu yang disebut sebagai kaidah kebahasaan. Dalam cerita fiksi biasanya menggunakan 3 Kaidah Kebahasaan yang paling umum, yakni metafora, metonimia dan simile.
Cerita fiksi memiliki kaidah Ketatabahasaan sendiri. Kalau dibandingkan dengan puisi, jelas saja penggunaan kaidah bahasaannya berbeda. Nah! Buat kamu nih yang mau tahu seperti apa bahasa yang digunakan dalam cerita fiksi, berikut kami kasih tau.
a. Metafora
Kaidah Kebahasaan metafora sering terdengar di dunia cerita. Apa sih yang dimaksud dengan kaidah kebahasaan metafora? Kaidah kebahasaan metafora merupakan kaidah bahasa yang digunakan untuk membandingkan dua perumpamaan serupa namun bahasanya berbeda.
b. Simile
Pernah mendengar kaidah kebahasaan simile? Kaidah kebahasaan yang satu ini adalah kaidah kebahasaan yang berguna untuk membandingkan suatu hal secara eksplisit. Bukan hanya itu saja, bahkan juga mengusung kata seumpama, selayaknya, dan lainnya.
c. Metonimia
Metonimia biasa disebut sebagai kata yang digunakan untuk menggantikan kata sesuatu. Dalam hal penggunaan gaya bahasa ini juga hanya diperuntukkan bagi objek atau subjek yang memiliki hubungan dekat saja.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad.(2022). Cerita Fiksi: Pengertian, Unsur, Jenis, Struktur dan Contoh. (Online)https://www.gramedia.com/best-seller/cerita-fiksi/-diunduh pada 13 Oktober 2022)
Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Genre Sastra Klasik
Nama : Aurel Gracia
Nim : 22016014
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah
Dosen pengampu : Dr.abdurahman,M.pd.
Sesi(08.50-12.20)
A. Genre Sastra Klasik
Pengertian Sastra Klasik Sastra lama Indonesia yang biasa distilatakan sastra klasik dapat diartikan sebagai karya sastro yang memakai bahasa Melayu Penggunaan bahasa Melayu ialah bahasa yang dipakai sebagai pangkal bahasa Indonesia Jika kita mengamati pembelajaran sastra lama dalam kajian filologi, maka hal yang dipelajari adalah naskah Pada saat kita mempelajan naskah maka akan terungkap bahasa yang dipakai, misalnya bahasa yang dipakai dalam naskah ialah bahasa Melayu dengan tulisan Arab, bersifat ononim, kadang terdapat nama penyalin yang terdapat dalam kolofon naskah atau informasi naskah Sasha kasik juga dapat diartikan sebagai karya yang dihasilkan oleh sastrawan yang berada pada zaman kerajaan atau masa ketika belum adanya pengerakan nasional
Hasil sastra lama itu cukup besar jumlahnya Hal ini dapat dengan mudah kita ketahui dan kita buktikan dan beberapa katalogus naskah yang mendaftarkan dan menguraikan serba ringkas isi naskah itu yang umumnya terdapat di perpustakaan universitas dan bagian naskah di museum di Jakona, Leiden, London, Munich, Brusel Kuala Lumpur, dan lain-lain lihat Howard. 1966) Sebagai contoh di Musium Nasional Jakarta saja naskah Melayu itu terdaftar sebanyak 953 naskah lihat Sutoorga 199721 Data Data terakhir tahun 2013, Perpustakaan Nasional Ri memiliki total koleksi data primer berupa naskah Nusantara sebanyak 10.613eksemplar, sementara data primer berupa terbitan berkala berbentuk majalah lama sebanyak 6.285 judul. Di Leiden lebih banyak lagi yang terdaftar dalam katalogus Juinboll (1899) dan van Ronkel 19211 dan di London terdaftar dalam katalogus yang disusun oleh Rocklefs (1977), masa waktunya pun cukup lama yaitu sejak orang Meayu mengenal tulisan, khususnya tulisan Arab yang biasa disebut tulisan Arab-Melayu, diperkirakan abad ke-17, kemudian tulisan latin sampai dengan masa kita mengenal mesin cetak yang digunakan untuk menerbitkan karya sastra itu, yaitu zamon Balai Pustaka sekitar tahun 20-on sastra Indonesia Modem pada zaman Bolai Pustaka ini Sebelum zaman Balai Pustaka ini karya sastra yang ditulis dengan bahasa Melayu disebut sastra Melayu klasik otou sastra Indonesia lama
B.Perbedaan Sastra Klasik dengan Sastra Modem
Perbedaan sastra Melayu Klasik dengan sastra Modem Indonesia Jika menggunakan analogi Sastra ada setelah bahasa ada maka kesusastroan Indonesia baru ada mulai tahun 1928 Karena nama bahasa indonesia secara politis baru ada setelah bahasa Melayu di dikrarkan sebagai bahasa persatuan pada tanggal 28 Oktober 1928 yang dikenal dengan Sumpah Pemuda Namun menurut Ayip Rosidi dan A Teesaw, Kesusastraan Indonesia Modem ditandai dengan rasa kebangsaan pada karya sastra Contohnya seperti Moh Yamin, Sanusi Pane, Muh. Hatta yang
mengumumkan sajak-sajak mereka pada majalah Yong Sumatera sebelum tahun 1928 Cin dan sifat sastra modem, yaitu masyarakatnya muali kreatit Indo -Eropa Nonim, dan dinamis, serta tulis dan cetak Masa yang ada dalam sastra modem indonesia dibagi dalam (11a Masa Kebangkitan 11920-1945), yaitu: 11 Penode 1920 Angkatan Balai Pustakal
C. Sifat Ciri Sastra Klasik
Bicara sifat dan on sastra klasik terlebih dahulu harus gambarkan bahwa sastra klasik dapat dikatakan sebagai penode zaman asli prasejarah atau zaman nirekha, yakni zaman belum ada tulisan. Di zamn ini sastra berbentuk lean, puisi maupun prosa. Mula-mula lahir puisi yang berbentuk mantra, Mantra adalah alat ntual, jampi-jampi, pekasih, pengusir stan, dan sebaginya Selanjutnya berkembang menjadi bahasa benrama, kemudian muncul pantun, pusi ini mudah dihalal sebagai alat pergaulan Setelah itu muncul gunndam, sebgai alat persuasi adat dan nasehat. Benkutnya muncul pula mite, legenda, fable, dan centa jenaka dengan tokoh-tokohnya yang lucu
Contoh mantra agar anjing tidak melolong Pulanglah engkau kepada rimba sekampung Pulanglah engkau kepada mmba yang besar Pulanglah engkau kepada goung Guntung Pulanglah engkau kepada sungai tiada beshulu Pulanglah engkau kepada kolam tiada bergali Pulanglah engkau kepadatasik yang tiada berorang Pulanglah engkau kepada mata air yang tada kening. Jika engkau tak mau kembali mahlah engkau..
Bunyi mantra di atas memiliki daya magis yang terdapat pada bunyi gaya pararelisme dan inonim konotatif, seperti goung guntung yaitu kiasan lembah atau ngarai yang dalam sungai tiada berhulu, yaitu kiasan selat, kolam tiada todo bergal yaitu kiasan laut, tasik tioda berorang, yaitu kiasan danau di
tengah rimba, mata air yang tiada kering, mengandung kasan mba dan gunungnya.
Sementara ciri sastra klasik dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Statis, tidak mudah menenma pengaruh luar a statis dalam lukisan, sepem pujian kepada seorang gadis Rambutnya mayang terural dahinya seperti bulan 14 har, alisnya seperti semut betining bulu matanya lentik seperti siraut jatuh, matanya cemerlang seperti bintang timur atau matonya sayu seperti redup redup Min menyala, hidungnya mendasun tunggal pipinya seperti pauh dilayang bibimya delima merkah dogunya seperti lebah bergantung, giginya sebons mubara, lendangannya sebentuk gondewa, jari-jarinya mendunk landak, kukunya seperti bulan tiga har pahanya seperti paha belalang, betisnya seperti perut) pod tumitnya putih seperti telur burung, lenggangnya seperti hanmau kelaparan, merdu bicaranya seperti suara buluh perindu
b. Stats, fanatik dalam menggunakan dalil-dalil sebagap engantar sebuah uraian, seperti:
Kerajaan Kelantan, nasrun min Allah wa fathunq onbun wa basyir il mukminin Bantuan dan Allah dan Kemenangan telah dekat, khabarkanlah warta baik ini kepada mereka yang percaya (Kalimat dalam benderaKelantanSenang menggunakan istilah-istilah Arab sebagai pengantar amabakdu, al kissah, hatta, kata sahibulhikayat, pesan sahibulboet, dsb.
C.Statis dalam bentuk karangan, mengutamakan persajakan, seolah-olah mengabaikan isi yang akan di sampaikan pantun syair, talibun 2 Anonim karya sastra dianggap punya bersama. Karena itu kita tidak mengetahui siapa pengarang pantun, talibun, gurindam, syair. Juga umumnya karya sastra bentuk prosa zaman ini.
D. Contoh-contoh Teks/Lisan Sastra Klasik Nusantara
1. Gurindam
Gurindam ini dibawa oleh orang Hindu atau pengaruh sastra Hindu. Gurindam berasal dari Bahasa Tamil (India) yaitu kirindam yang berarti mula-mula asal perumpamaan.
Gurindam adalah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua baris kalimat dengan irama akhir yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi. Gurindam berisi nasihat, petuah, ajaran moral kebaikan dan budi pekerti.
Ciri-ciri Gurindam adalah sebagai berikut:
1.Setiap bait terdiri atas dua baris atau larik
2.Biasanya menggunakan pola rima sama atau lurus (a – a)
3.Umumnya setiap baris terdiri atas 4-6 kata (8-12 suku kata)
4.Baris pertama dan kedua biasanya membangun hubungan sebab akibat
5.Umumnya mengandung petuah, nasihat, atau amsal (ucapan yang mengandung kebenaran).
2. Hikayat
Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa, terutama dalam Bahasa Melayu yang berisikan tentang kisah, cerita, dan dongeng. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama. Sebuah hikayat dibacakan sebagai hiburan, pelipur lara atau untuk membangkitkan semangat juang.
Ciri-ciri Hikayat:
1. Isiceritanya berkisar pada tokoh raja dan keluarganya.
2.Bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika tersendiri yang menyebutkannya fantastis.
3.Mempergunakan banyak kata arkais (klise).
4.Nama pengarang biasanya tidak disebutkan (anonim).
3. Karmina
Karmina atau pantun kilat adalah pantun yang terdiri dari dua baris. Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua adalah isi. Memiliki pola sajak lurus (a-a). Biasanya digunakan untuk menyampaikan sindiran ataupun ungkapan secara langsung.
Ciri-ciri Karmina :
Terdiri dari dua baris
Bersajak a-a
Terdiri dari 8-12 suku kata
Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua merupakan isi
Contoh pantun karmina :
Sudah gaharu cendana pula.
Sudah tahu masih bertanya pula.
4. Pantun
Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang berasal dari kata patuntun dalam bahasa Minangkabau yang berarti "petuntun". Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a (tidak boleh a-a-b-b, atau a-b-b-a). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.
Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.
Contoh Pantun:
Kayu cendana diatas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang
Tema talibun biasanya berdasarkan fungsi puisi tersebut. Contohnya seperti berikut:
Mengisahkan kebesaran/kehebatan sesuatu tempat dll
Mengisahkan keajaiban sesuatu benda/peristiwa
Mengisahkan kehebatan/kecantikan seseorang
Mengisahkan kecantikan seseorang
Mengisahkan kelakuan dan sikap manusia
Mengisahkan perlakuan dimasa lalu
Contoh Talibun:
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak beli
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanakpun cari
Induk semang cari dahulu.
8.Bidal
Bidal adalah jenis puisi lama dalam bentuk peribahasa dalam sastra Melayu lama yang kebanyakan berisi sindiran, peringatan dan nasihat. Penulisan peribahasa di dalam bidal memiliki arti yang lugas serta memiliki irama dan rima. Bidal tidak memiliki aturan tertentu dalam penyusunan baris dan bait.
9.Seloka
Seloka adalah sajak yang mengandung ajaran,sindiran,dan sebagainya (Ali,2006:405). Seloka adalah pantun berkait yang tidak cukup dengan satu bait saja sbab pantun berkait merupakan jalinan atas beberapa bait. Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair,terkadang dapat pula ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris. Ciri–ciri :
1. Ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair
2. Namun ada seloka yang diyulis lebih dari empat baris.
DAFTAR PUSTAKA
Attas, Gomo Siti. 2018. Sastra Klasik. Jakarta:Unj Press.
Pardede, Yolanda Naomi. (2021). Sastra Klasik.(Online).Pardede, Yolanda Naomi. (2021). Sastra Klasik.(Online).tugas-laporan-bacaan-minggu-ke-6.diunduh 13 Oktober 2022
Penyajian Masalah Semantik: Topik: Analisis Makna dalam Lirik Lagu Tulus: Album Monokrom
Nama : Aurel Gracia Nim : 22016014 Prodi : Pendidikan bahasa dan sastra indonesia Analisis Makna dalam Lirik Lagu...
-
Nama : Aurel Gracia Nim : 22016014 Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Dosen pengampu : Dr.abdurahman,M.pd. Sesi(08.5...
-
Nama : Aurel Gracia Nim : 22016014 Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Dosen pengampu : Dr.abdurahman,M.pd. Sesi(08.50...
-
Nama : Aurel Gracia Nim : 22016014 Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Dosen pengampu : Dr.abdurahman,M.pd. Sesi(08.50...






